What's New Here?

Tampilkan postingan dengan label STEM FOR ALL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label STEM FOR ALL. Tampilkan semua postingan

Mendayagunakan Alat Sains dalam Proses Pembelajaran Sains yang Bermakna





Peserta didik, umumnya lebih senang jika dapat belajar sains dengan menggunakan alat peraga, alat laboratorium atau media pembelajaran lainnya. Selain mereka mendapatkan pengalaman langsung dengan obyek ataupun fenomena sains, juga keterampilan motorik mereka akan terlatih semakin baik. Peserta didik pun akan lebih banyak dikenalkan dengan jenis dan variasi alat serta fungsi alat yang digunakan. Tidak sedikit peserta didik yang memperoleh inspirasi membuat alat sederhana atau modifikasi alat atau “bereksperimen” setelah melakukan percobaan atau penyelidikan pada pembelajaran sains. Melalui alat sains, peserta didik dapat merangkai dan mencoba berbagai variabel-variabel saintifik untuk menguji atau membuktikan teori. Dengan alat dan rangkaian alat yang memadai, peserta didik dapat menguji dugaan-dugaan sementara (hipotesis) terkait dengan konsep sains. Dampak pemberian atau penambahan kalor terhadap suatu benda (zat cair misalnya) akan dapat ditunjukkan dengan perubahan suhu pada alat termometer. Demikian pula, dampak penambahan tegangan pada suatu rangkaian listrik tertutup sederhana terhadap perubahan kuat arus dapat ditunjukkan oleh alat ukur Ampermeter. Pendeknya, banyak fenomena-fenomena alam yang dapat dibantunjukkan oleh alat atau rangkaian alat sains. Demikian penting dan bermanfaatnya keberadaan alat peraga atau alat laboratorium sains dalam suatu proses pembelajaran sains.


Mengingat pentingnya peranan alat laboratorium sains bagi peserta didik, maka Pemerintah terus berupaya melengkapi dan memberikan bantuan pengadaan alat sains. Pengadaan alat sains SMP misalnya, saat ini dilakukan dengan pemberian langsung dari Pusat. Pengadaan diikuti dengan pelatihan pengenalan, pendayagunaan dan pemeliharaan alat. Untuk memberikan jaminan bahwa pelatihan alat sains tersebut berkualitas dan tepat sasaran serta capaiannya dapat terukur, maka dilakukan berbagai upaya menyiapkan SDM pelatih atau fasilitator/instruktur secara lebih baik. Hari Minggu, tanggal 28 Juni 2015 bertempat di SMAN Banjaran Kabupaten Bandung dilakukan simulasi pelaksanaan pelatihan Alat Fisika dan Biologi untuk tingkat SMP. Pada simulasi tersebut dilakukan dengan membahas jadwal, tahapan pelatihan, pre test dan post tes serta system tagihan dan kegiatan peserta yang dilakukan.

Persiapan pelatihan yang dilakukan bertujuan untuk: (1) memastikan urutan jadwal dan kelengkapan pelatihan dapat disiapkan jauh sebelum pelaksanaan, (2) menyamakan persepsi pada instruktur terhadap materi pengenalan, pendayagunaan dan pemeliharaan alat sains, (3) mendapatkan berbagai masukan teknik dan strategi pelaksanaan percobaan untuk masing-masing KIT, (4) mengatur teknik pembagian kelompok agar peserta dapat melakukan kegiatan bersama, (5) mengupayakan ketercapaian peserta didik dalam menguasai setiap percobaan untuk seluruh KIT, dan (6) memastikan efektivitas penguasaan peserta terhadap pengenalan alat dan pendayagunaan alat di lapangan.

Drs. H. Maman Syaeful, selaku pemrakarsa simulasi menjelang pelatihan alat sains meyakini bahwa upaya menyiapkan pelatihan dengan pola simulasi seperti ini akan meningkatkan kualitas pelatihan alat sains. Para instruktur yang terdiri dari tenaga pendidik profesional, baik yang berasal dari unsur guru, pengawas maupun kepala sekolah akan memperkuat tim pelatih. Mereka berkomitmen untuk terus berupaya memaksimalkan persiapan, pelaksanaan dan evaluasi pelatihan. Semoga pelatihan alat sains SMP tahun 2015 yang berjumlah sekitar 1300 sekolah pada Juli sd September 2015 dapat berjalan dengan selamat dan sukses. Amin.
(Chaerul, 28 Juni 2015)

Mendayagunakan Alat Sains dalam Proses Pembelajaran Sains yang Bermakna

Posted by Best Practice of Teaching and Learning No comments





Peserta didik, umumnya lebih senang jika dapat belajar sains dengan menggunakan alat peraga, alat laboratorium atau media pembelajaran lainnya. Selain mereka mendapatkan pengalaman langsung dengan obyek ataupun fenomena sains, juga keterampilan motorik mereka akan terlatih semakin baik. Peserta didik pun akan lebih banyak dikenalkan dengan jenis dan variasi alat serta fungsi alat yang digunakan. Tidak sedikit peserta didik yang memperoleh inspirasi membuat alat sederhana atau modifikasi alat atau “bereksperimen” setelah melakukan percobaan atau penyelidikan pada pembelajaran sains. Melalui alat sains, peserta didik dapat merangkai dan mencoba berbagai variabel-variabel saintifik untuk menguji atau membuktikan teori. Dengan alat dan rangkaian alat yang memadai, peserta didik dapat menguji dugaan-dugaan sementara (hipotesis) terkait dengan konsep sains. Dampak pemberian atau penambahan kalor terhadap suatu benda (zat cair misalnya) akan dapat ditunjukkan dengan perubahan suhu pada alat termometer. Demikian pula, dampak penambahan tegangan pada suatu rangkaian listrik tertutup sederhana terhadap perubahan kuat arus dapat ditunjukkan oleh alat ukur Ampermeter. Pendeknya, banyak fenomena-fenomena alam yang dapat dibantunjukkan oleh alat atau rangkaian alat sains. Demikian penting dan bermanfaatnya keberadaan alat peraga atau alat laboratorium sains dalam suatu proses pembelajaran sains.


Mengingat pentingnya peranan alat laboratorium sains bagi peserta didik, maka Pemerintah terus berupaya melengkapi dan memberikan bantuan pengadaan alat sains. Pengadaan alat sains SMP misalnya, saat ini dilakukan dengan pemberian langsung dari Pusat. Pengadaan diikuti dengan pelatihan pengenalan, pendayagunaan dan pemeliharaan alat. Untuk memberikan jaminan bahwa pelatihan alat sains tersebut berkualitas dan tepat sasaran serta capaiannya dapat terukur, maka dilakukan berbagai upaya menyiapkan SDM pelatih atau fasilitator/instruktur secara lebih baik. Hari Minggu, tanggal 28 Juni 2015 bertempat di SMAN Banjaran Kabupaten Bandung dilakukan simulasi pelaksanaan pelatihan Alat Fisika dan Biologi untuk tingkat SMP. Pada simulasi tersebut dilakukan dengan membahas jadwal, tahapan pelatihan, pre test dan post tes serta system tagihan dan kegiatan peserta yang dilakukan.

Persiapan pelatihan yang dilakukan bertujuan untuk: (1) memastikan urutan jadwal dan kelengkapan pelatihan dapat disiapkan jauh sebelum pelaksanaan, (2) menyamakan persepsi pada instruktur terhadap materi pengenalan, pendayagunaan dan pemeliharaan alat sains, (3) mendapatkan berbagai masukan teknik dan strategi pelaksanaan percobaan untuk masing-masing KIT, (4) mengatur teknik pembagian kelompok agar peserta dapat melakukan kegiatan bersama, (5) mengupayakan ketercapaian peserta didik dalam menguasai setiap percobaan untuk seluruh KIT, dan (6) memastikan efektivitas penguasaan peserta terhadap pengenalan alat dan pendayagunaan alat di lapangan.

Drs. H. Maman Syaeful, selaku pemrakarsa simulasi menjelang pelatihan alat sains meyakini bahwa upaya menyiapkan pelatihan dengan pola simulasi seperti ini akan meningkatkan kualitas pelatihan alat sains. Para instruktur yang terdiri dari tenaga pendidik profesional, baik yang berasal dari unsur guru, pengawas maupun kepala sekolah akan memperkuat tim pelatih. Mereka berkomitmen untuk terus berupaya memaksimalkan persiapan, pelaksanaan dan evaluasi pelatihan. Semoga pelatihan alat sains SMP tahun 2015 yang berjumlah sekitar 1300 sekolah pada Juli sd September 2015 dapat berjalan dengan selamat dan sukses. Amin.
(Chaerul, 28 Juni 2015)

Menjadi Fasilitator Program STEM for SMART Lab USAID-USBI

Keberhasilan dan nilai tambah bangsa Indonesia di masa depan salah satunya memiliki indikator capaian Science Technology Engineering and Mathematics (STEM). Modal yang kuat dengan pendidikan kuat pada bidang STEM ini diharapkan bisa bersaing dengan bangsa manapun. Kemampuan ini harus diperjuangkan untuk merata dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu,  USAID mendukung dan memberi kepercayaan kepada Universitas Siswa Bangsa Internasional untuk bermitra secara multi dengan peerguruan tinggi di luar negeri untuk melatih 500 orang guru MIPA yang akan mendesiminasikan kepada 10.000 siswa kelas XI di beberapa Provinsi dan beberapa kabupaten kota.

Untuk itu,  telah dilakukan pelatihan kepada guru-guru MIPA dari 20 SMA Negeri dan Swasta di Kabupaten Bandung yang dilaksanakan tanggal 8 sd 12 Juni 2015 bertempat di Hotel Fave Premier Cihampelas Bandung. Adapun materi pokok yang diberikan adalah "Making", Pembelajaran Model Engagement, Exploration, Explanation, Elaboration, and Evaluation (5E) dan Problem Based Learning (PBL). dengan Making, peserta diajak untuk mengeksplorasi konsep teknologi pembelajaran melalui pembuatan "alat peraga" kreatif. Dengan 5E, peserta dimodelkan bagaimana melaksanakan pembelajaran yang memadukan berbagai keterampilan peserta didik sehingga lebih menyenangkan, otentik dan sistematis.

Pada kesempatan pembukaan dihsdiri oleh Pejabat dari USAID antara lain pa Jaluk Cahyono (Education Specialist untuk USAID). Demikian pula para hari Rabu tanggal 10 Juni hadir salah satu Wakil Direktur USAID dari Amerika. Tak hanya itu, saat dilakukan praktik mengajar di SMAN Bandjaran hadir pula pejabat dari USAID lain yang mengunjungi ke kelas-kelas praktik. Konsultan yang aktif pada kesempatan pelatihan tersebut adalah Dr. Chaerul Rochman, M.Pd (Konsultan Fisika) dab Dr. Ahmad Mudrikah, M.Pd (Konsultan Matematika)

Dengan PBL, peserta diajak untuk mengembangkan pengalaman dan keteranpilannya untuk melakukan sebuah proyek dalam rangka memecahkan suatu masalah STEM. Pengalaman yang luar biasa diperoleh oleh para guru MIPA se Kab Bandung. Diharapkan para guru dapat mengimplementasikan dan membudayakan pembelajaran yang menyenangkan, penuh tantangan dan senantiasa update.
(diposting 12 Juni 2015:chaerul)


Menjadi Fasilitator Program STEM for SMART Lab USAID-USBI

Posted by Best Practice of Teaching and Learning No comments

Keberhasilan dan nilai tambah bangsa Indonesia di masa depan salah satunya memiliki indikator capaian Science Technology Engineering and Mathematics (STEM). Modal yang kuat dengan pendidikan kuat pada bidang STEM ini diharapkan bisa bersaing dengan bangsa manapun. Kemampuan ini harus diperjuangkan untuk merata dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu,  USAID mendukung dan memberi kepercayaan kepada Universitas Siswa Bangsa Internasional untuk bermitra secara multi dengan peerguruan tinggi di luar negeri untuk melatih 500 orang guru MIPA yang akan mendesiminasikan kepada 10.000 siswa kelas XI di beberapa Provinsi dan beberapa kabupaten kota.

Untuk itu,  telah dilakukan pelatihan kepada guru-guru MIPA dari 20 SMA Negeri dan Swasta di Kabupaten Bandung yang dilaksanakan tanggal 8 sd 12 Juni 2015 bertempat di Hotel Fave Premier Cihampelas Bandung. Adapun materi pokok yang diberikan adalah "Making", Pembelajaran Model Engagement, Exploration, Explanation, Elaboration, and Evaluation (5E) dan Problem Based Learning (PBL). dengan Making, peserta diajak untuk mengeksplorasi konsep teknologi pembelajaran melalui pembuatan "alat peraga" kreatif. Dengan 5E, peserta dimodelkan bagaimana melaksanakan pembelajaran yang memadukan berbagai keterampilan peserta didik sehingga lebih menyenangkan, otentik dan sistematis.

Pada kesempatan pembukaan dihsdiri oleh Pejabat dari USAID antara lain pa Jaluk Cahyono (Education Specialist untuk USAID). Demikian pula para hari Rabu tanggal 10 Juni hadir salah satu Wakil Direktur USAID dari Amerika. Tak hanya itu, saat dilakukan praktik mengajar di SMAN Bandjaran hadir pula pejabat dari USAID lain yang mengunjungi ke kelas-kelas praktik. Konsultan yang aktif pada kesempatan pelatihan tersebut adalah Dr. Chaerul Rochman, M.Pd (Konsultan Fisika) dab Dr. Ahmad Mudrikah, M.Pd (Konsultan Matematika)

Dengan PBL, peserta diajak untuk mengembangkan pengalaman dan keteranpilannya untuk melakukan sebuah proyek dalam rangka memecahkan suatu masalah STEM. Pengalaman yang luar biasa diperoleh oleh para guru MIPA se Kab Bandung. Diharapkan para guru dapat mengimplementasikan dan membudayakan pembelajaran yang menyenangkan, penuh tantangan dan senantiasa update.
(diposting 12 Juni 2015:chaerul)


Recent Posts

back to top